Ciri-ciri Ponsel BM yang Mulai Diblokir 15 September

ponsel BM

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika resmi memblokir ponsel black market (BM) mulai 15 September mendatang.

Hal itu berdasarkan informasi yang diterima dari Kemekominfo dari Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI). Pihak ATSI saat ini sedang melakukan penyempurnaan sistem Central Equipment Identity Register (Ceir).

Marwan O Baasir, Sekjen ATSI, dilansir Kompas.com mengatakan, kemungkinan besar pemblokiran secara resmi ponsel BM dilakukan mulai 15 September. Menurut Marwan, seharusnya ponsel ilegal itu diblokir pada 18 April lalu melalui IMEI. Namun rencana itu ditunda dan direvisi menjadi 24 Agustus.

Namun lagi-lagi rencana itu molor. Pihak ATSI kembali menargetkan pemblokiran ponsel BM pada 31 Agustus. Target itu kembali melenceng.

Akhirnya, ATSI menyatakan kemungkinan besar pemblokiran ponsel BM mulai berlaku pada 15 September.

Marwan mengatakan, penyebab mundurnya pemberlakuan blokir ponsel BM karena ada kendala administrasi. Mesin Ceir yang berfungsi memverifikasi data dari mesin EIR yang ada di operator seluler belum diserahkan oleh ATSI kepada pemerintah melalui Kementerian Perindustrian.

Menurut Marwan, ATSI saat itu masih menunggu berita acara serah terima database berisi TPP Impor dan TPP produksi dari pmerintah. Saat ini, lanjut marwan, database dalam proses pemindahan.

“Saat ini tinggal menunggu migrasi dari Ceir Cloud ke Ceir hardware,” kata Marwan dikutip dari Kompas.com.

Proses blokir ponsel BM

Bagaimana proses pemblokiran yang dilakukan pemerintah? Disebutkan bahwa proses pemblokiran ponsel BM dilakuakn dengan mekanisme whitelist dengan menerapkan penutupan secara normal (normally off).
Cara kerjanya adalah pemerintah hanya memberikan sinyal operator pada ponsel yang memiliki IMEI legal alias terdaftar di Kemenperin.

Ponsel BM yang diblokir adalah perangkat yang baru dan belum terkoneksi sama sekali dengan operator mana pun. Sementara ponsel BM yang sudah dibeli sebelum pemblokiran resmi dimulai, maka itu masih bisa dipakai dan tersambung dengan operator.

Ciri-ciri ponsel BM

Ponsel black market memiliki ciri-ciri tertentu yang menjadi pembeda dengan HP legal. Berikut ulasannya.

1. Stiker IMEI beda

Untuk mengetahui bahwa ponsel itu BM silakan periksa kardus lalu cari stiker IMEI. Jika ada keterangan “dirakit di Indonesia” atau “Diproduksi di Indonensia”, maka ponsel itu dipastikan memiliki garansi resmi alias legal.

2. IMEI tak terdaftar di Kemenperin

IMEI menjadi salah satu elemen ponsel yang penting untuk menentukan black market atau tidaknya sebuah perangkat. Bahkan, kode ini merupakan titik tolak pemerintah untuk memblokir ponsel BM.

Ketika IMEI itu tak terdaftar di Kemenperin, maka dipastikan ponsel itu black market alias ilegal.

Cara mengecek apakah IMEI ponsel terdaftar atau tidak, Anda tinggal mengunjungi situs resmi Kemenperin di https://imei.kemenperin.go.id. Lalu masukkan IMEI yang berada di ponsel.

Untuk mengecek IMEI di ponsel, selain di Pengaturan juga bisa dengan menekan *#06# di ponsel.

3. Tak ada sinyal seluler

Jika Anda ingin membeli sebuah ponsel, cek terlebih dahulu jaringannya dengan memasukkan kartu ke slot karut SIM di ponsel. Jika ponsel Anda mendapat sinyal, maka dipastikan ponel itu legal.

4. Garansi resmi

Pastikan Anda tanya soal garansi sebelum membeli ponsel. Jika penjual menyebut garansi toko atau distributor, maka ponsel itu dipastikan ilegal alias black market.

Biasanya ponsel yang resmi itu memiliki garansi langsung dari provider. Misalnya, Anda membeli ponsel Xiaomi dengan garansi langsung dari Xiaomi. Nah itu benar ponsel resmi yang IMEI-nya terdaftar di pemerintah.

You May Also Like

About the Author: jalurtujuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *