Misteri Gerabah Kuno dan Ketukan Mistis di Malam Hari

gerabah

Malam hari, sejumlah warga Desa Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, dikejutkan oleh suara ketukan pintu mistis di rumahnya. Sebelumnya, mereka sempat menemukan gerabah kuno yang diduga merupakan peninggalan Dinasti Sung, China.

Kisah seram ini diceritakan oleh salah seorang penemunya bernama Eka Safutra. Dilansir Kompas.com, awalnya Eka dan warga lainya hendak mencari batu cincin yang saat itu sedang populer dan harganya mahal pada 2017.

Mereka kemudian masuk ke hutan Taman Nasional Berbak yang berbatasan langsung dengan desa mereka, Desa Rantau Rasau.

Setelah tiba di hutan, Eka dan teman-temannya kemdian mencari batu cincin. Namun dalam pencarian itu, mereka malah menemukan keramik dengan ukiran naga, gerabah kuno dan senjata kuno pula. Mereka pun mengambil benda bernilai sejarah itu dan membawanya pulang.

Namun pada malam harinya, mereka mengalami kejadian aneh. Mereka masing-masing mendengar pintu diketuk. Bahkan warga lain yang tak ikut ke hutan pun mendapat ketukan misterius itu di pintunya.

Eka dan kawan-kawan pun berkumpul dan mengumpulkan gerbaha-gerbah kuno itu dan menyimpannya di rumah salah satu teman mereka.

Selain mendengar ketukan misterius itu, Eka dan teman-temannya sempat bertemu harimau. Mereka pun menghindari binatang buas itu.

Eka percaya bahwa ketukan misterius dan pertemuan dengan harimau itu berkaitan dengan penemuan mereka atas gerabah-gerabah kuno itu.

Milik Dinasti Sung

Awalnya, gerabah kuno itu disebut bekas peninggalan masa Dinasti Tung yang. Namun seorang arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) bernama Sigit Ario Nugroho menduga benda-benda purbakala itu adalah milik Dinasti Sung.

Menurut Sigit, jika disebut peninggalan Dinasti Tang, benda itu terlalu tua, yakni abad VII dan VIII. Ia menduga, benda-benda itu bekas peninggalan Dinasti Sung pada abad X dan XI. Dugaan itu disesuaikan dengan konteks temuan lain yang diduga saling berkaitan, di Tanjung Jabung Timur seperti kapal di Lamur dan keramik lainnya.

 

 

 

You May Also Like

About the Author: jalurtujuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *