Ini Lokasi KKN Desa Penari dan Cerita Lengkapnya

Desa Penari yang viral karena mengandung unsur mistis terungkap. Seorang pria yang juga budayawan asal Banyuwangi mengungkapkan bahwa lokasi persis KKN Desa Penari berada di sekitar 2 kilometer dari Desa Kemiran di Banyuwangi.

Pria yang berambut ikal itu menceritakan dugaan lokasi KKN Desa Penari melalui kanal Youtube Cakwer Channel.

Dikutip dari Tribunnews, pria yang mengenakan kaus hitam bertuliskan Forum Budaya Purnama itu mengatakan, di desa mistis itu terdapat sebuah makam yang dihiasi kain hitam. Menurut dia, awalnya kain itu putih namun karena kotor maka warnanya berubah menjadi hitam.

Selain itu, di sana juga terdapat benda-benda sakral seperti pondasi, batu dan sumber air. Di sana juga ada penari gaib yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu.

Pria itu mengaku pernah mendengar suara musik gamelan di lokasi tersebut pada malam hari.

Selain itu, di lokasi itu ada warga yang tinggal dan disebut sesepuh. Ia berinisial J namun sudah meninggal.

Terkait kebenaran bahwa lokasi itu dijadikan tempat kuliah kerja nyata (KKN) pria mengaku tidak tahu. Namun jika melihat cerita yang tersebar di media sosial, ciri-ciri lokasi dan background yang dikisahkan itu mirip dengan lokasi tersebut.

Tagar.id kemudian merilis cerita lengkap KKN di desa misteri yang dirangkai dari kisah berseri akun Twitter @SimpleM81378523. Ada dua versi cerita horor itu. Namun yang dikisahkan adalah versi pertama dari sudut pandang Widya.

Berikut cerita lengkapnya:

Malam ini, gw akan bercerita sebuah cerita dari seseorang, yang menurut gw spesial. Kenapa? Karena gw sedikit gak yakin bakal bisa menceritakan setiap detail apa yang beliau alami.

Sebuah cerita tentang pengalaman beliau selama KKN, di sebuah desa penari.

Sebelum gw memulai semuanya. Gw sedikit mau menyampaikan beberapa hal.

Sebelumnya, penulis tidak mendapat ijin untuk memposting cerita ini dari yang empunya cerita, karena beliau memiliki ketakutan sendiri pada beberapa hal, yang meliputi kampus dan desa tempat KKN diadakan.

Tetapi, karena penulis berpikir bahwa cerita ini memiliki banyak pelajaran yang mungkin bisa dipetik terlepas dari pengalaman sang pemilik cerita akhirnya, kami sepakat, bahwa, semua yang berhubungan dengan cerita ini, meliputi nama kampus, fakultas, desa dan latar cerita, akan sangat dirahasiakan.

Jadi buat teman-teman yang membaca cerita ini, yang mungkin tahu, atau merasa familiar dengan beberapa tempat yang meski disamarkan ini, dimohon, untuk diam saja, atau merahasiakan semuanya, karena ini sudah menjadi janji penulis dan pemilik cerita.

Tahun 2009 akhir, semua anak angkatan 2005/06 sudah hampir merampungkan persyaratan untuk mengikuti KKN yang dilakukan di beberapa desa sebagai syarat lanjutan untuk tugas skripsi.

Dari semua wajah antusias itu di kampus, terlihat satu orang tampak menyendiri. Widya, begitu anak-anak lain memanggilnya

Ia tampak begitu gugup, menyepi, menyendiri, sampai panggilan telepon itu membuyarkan lamunannya.

“Aku wes oleh nggon KKN’e,” (aku sudah dapat tempat untuk KKN) kata di ujung telepon. Wajah muram itu, berubah menjadi senyuman penuh harap.

“Nang ndi?” (dimana?)

“Nang kota B, gok deso kabupaten Kli** , akeh proker, tak jamin, nggone cocok gawe KKN” (di kota B, di sebuah desa di kabupaten K****, banyak proker untuk dikerjakan, tempatnya cocok untuk KKN kita).

Baca juga: Raditya Dika Akan Rilis Novel KKN Desa Penari

Saat itu juga, Widya segera mengajukan proposal KKN. Semua persyaratan sudah terpenuhi, kecuali kelengkapan anggota dalam setiap kelompok minimal harus melibatkan 2 fakultas berbeda pun dengan anggota minimal 6 orang.

“Tenang,” kata Ayu, perempuan yang tempo hari memberi kabar tempat KKN yang ia observasi bersama abangnya. Benar saja, tidak beberapa lama, muncul Bima dengan Nur, ia menyampaikan, kelengkapan anggota 6 orang yang melibatkan 2 fakultas sudah disetujui.

“Sopo sing gabung Nur (siapa yang sudah gabung Nur)?” tanya Ayu,

“Temenku. kating, 2 angkatan di atas kita, satunya lagi, temannya.” Lega sudah, batin Widya.

Surat keputusan KKN sudah disetujui semuanya, terdiri dari 2 fakultas dengan proker kelompok dan individu, untuk pengabdian di masyarakat yang akan diadakan kurang lebih sekitar 6 minggu.

Hanya tinggal menunggu, pembekalan sebelum keberangkatan. Jauh hari sebelum malam pembekalan, Widya berpamitan kepada orang tuanya tentang progress KKN yang wajib ia tempuh. Ketika orang tua Widya bertanya ke mana proyek KKN mereka, terlihat wajah tidak suka dari raut ibunya.

“Gak onok nggon liyo, lapo kudu gok Kota B (apa gak ada tempat lain, kenapa harus kota B)?” wajah ibunya menegang. “Nggok kudu nggone Alas tok? Ra umum di nggoni gawe menungso (di sana tempatnya bukannya hutan semua? Tidak bagus ditinggali oleh manusia).

Namun setelah Widya menjelaskan, bahwa sebelumnya sudah dilakukan observasi, wajah ibunya melunak.

“Perasaane ibuk gak enak, opo gak isok diundur setahun maneh (perasaan ibu gak enak, apa tidak bisa diundur satu tahun lagi).”

Widya enggan melakukannya, maka, meski berat, kedua orang tuanya pun terpaksa menyetujuinya.

Hari pembekalan sebelum keberangkatan. Widya, Ayu, Bima dan Nur, matanya melihat ke sekeliling, khawatir, 2 orang yang seharusnya ikut pembekalan belum juga terlihat batang hidungnya, sampai, menjelang siang, 2 orang muncul, menyapa dan memperkenalkan dirinya di depan mereka.

Wahyu dan Anton. Setelah basa-basi, bertanya seputar rencana KKN dari A sampai Z selesai, mereka akhirnya berangkat.

“Numpak opo dik kene (naik apa kita nanti)?” tanya Wahyu.

“Elf mas,” jawab Nur.

“Sampe deso’ne numpak Elf dik (sampai desanya naik mobil Elf dik)?”

“Mboten mas. Berhenti di jalur Alas D engken enten sing jemput (tidak mas, nanti berhenti di jalur hutan D, nanti ada yang jemput),” sahut Nur.

Mendengar itu, Widya bertanya ke Ayu. “Yu, deso’ne ra isok diliwati mobil ta (Yu, apa desanya gak bisa dimasuki mobil)?”

Ayu hanya menggelengkan kepala. “Ra isok, tapi cedek kok tekan dalan gede, 45 menit palingan (gak bisa, tapi dekat kok dari jalan besar, 45 menit kemungkinan).”

Di sinilah, cerita ini dimulai. Sesuai apa yang Nur katakan, mobil berhenti di jalur masuk hutan D, menempuh perjalanan 4 sampai 5 jam dari kota S. Tanpa terasa hari sudah mulai petang, ditambah area dekat dengan hutan, membuat pandangan mata terbatas, belum sampai di sana, gerimis mulai turun, lengkap sudah.

Setelah menunggu hampir setengah jam, terlihat dari jauh, cahaya mendekat, Nur dan Ayu langsung mengatakan bahwa mereka yang akan mengantar.

Rupanya, yang mengantar adalah 6 lelaki paruh baya, dengan motor butut.

“Cuk, sepedaan tah,” kata Wahyu, spontan. Saat itu ada yang aneh entah disengaja atau tidak, ucapan yang dianggap biasa di kota S, ditanggapi lain oleh lelaki itu, wajahnya tampak tidak suka, dan sinis tajam melihat Wahyu.

Hanya saja, yang memperhatikan semua sedetail itu, hanya Widya seorang. Apapun itu, semoga bukan hal yang buruk. Di tengah gerimis, jalanan berlumpur, pohon di samping kanan kiri, mereka tempuh dengan suara motor yang seperti sudah mau ngadat saja, ditambah medan tanah naik turun, membuat Widya berpikir kembali.

Sudah hampir satu jam lebih, tapi motor masih berjalan lebih jauh ke dalam hutan. Khawatir bahwa yang dimaksud Ayu, setengah jam lewat 15 menit adalah setengah hari, Widya mulai berharap semua ini cepat selesai.

Di tengah perjalanan, tidak satupun dari pengendara motor itu yang mengajaknya bicara, aneh. Apa semua warga disana pendiam semua.

Malam semakin gelap, dan hutan semakin sunyi sepi. Namun, kata orang, dimana sunyi dan sepi ditemui, di sana rahasia dijaga rapat-rapat.

Kini, rasa menyesal sempat terpikir di pikiran Widya. Apakah ia siap, menghabiskan 6 minggu ke depan, di sebuah desa, jauh di dalam hutan. Ketika suara motor memecah suara rintik gerimis, dari jauh, sayup-sayup, terdengar sebuah suara.

Suara familiar, dengan tabuhan kendang dan gong, diikuti suara kenong, kompyang, membaur menjadi alunan suara gamelan.

Apa ada yang sedang mengadakan hajatan di dekat sini. Dan ketika sayup-sayup suara itu perlahan menghilang, terlihat gapura kayu, menyambut mereka.

Sampailah mereka di Desa W****, tempat mereka akan mengabdikan diri selama 6 minggu ke depan.

“Monggo (permisi),” kata lelaki itu, sebelum meninggalkan Widya dengan motornya.

“Mrene rek,” teriak Ayu. Di sampingnya berdiri seorang pria, wajahnya tenang, dengan kumis tebal, mengenakan kemeja batik khas ketimuran, ia berdiri seolah sudah menunggu sedari tadi.

“Kenalno, niki Pak Prabu, kepala desanya, koncone mas’ku. Pak Prabu, niki rencang kulo yang dari Kota S, mau melaksanakan kegiatan KKN di kampung panjenengan (Kenalkan, ini Pak Prabu, kepala desa teman kakakku. Pak Prabu, ini teman saya yang dari kota S, yang rencananya mau KKN).”

Pak Prabu memperkenalkan diri, bercerita tentang sejarah desanya. Di tengah ia bercerita, Widya pun bertanya kenapa desanya harus sepelosok ini. Dengan tawa sumringah, Pak Prabu menjawab: “Pelosok yok nopo toh mbak, jarak ke dalan gede cuma setengah jam kok (pelosok bagaimana maksudnya mbak, bukannya jarak ke jalan besar hanya 30 menit)?”

Tatapan bingung Widya, disambut tatapan bertanya oleh semua temannya, seolah pertanyaannya kok membingungkan.

“Mbak’e paling pegel, wes, tak anter nang ndi sedoyo bakal tinggal (mbaknya mungkin capek, jadi, mari, tak antar ke tempat di mana nanti kalian tinggal).”

Di tengah kebingungan itu, Ayu menegur Widya. “Maksudmu opo to Wid, takon koyok ngunu? Garai sungkan ae (Maksudnya bagaimana Wid, kok kamu tanya seperti itu, membuat situasi jadi sungkan).”

Di situ, Widya menyadari, ada yang salah.

Tempat menginap untuk laki-laki adalah rumah gubuk yang dulunya seringkali dipakai untuk posyandu, tapi sudah diubah sedemikian rupa, meski beralaskan tanah, tapi di dalamnya sudah ada bayang (ranjang tidur) beralaskan tikar.

Sedangkan untuk perempuan, menginap di salah satu rumah warga.

Di dalam kamar, Widya pun menjelaskan maksud ucapannya kepada Pak Prabu, karena sepanjang perjalanan, bila dirasakan oleh Widya sendiri, itu lebih dari satu jam. Ayu membantah bahwa lama perjalanan tidak sampai selama itu. Anehnya, Nur memilih tidak ikut berdebat.

Nur, lebih memilih untuk diam. “Ngene, awakmu krungu ora, nang dalan alas mau, onok suara gamelan (gini, kamu dengar apa tidak , di jalan tadi, ada suara orang memainkan gamelan)?”

“Yo paling onok hajatan lah, opo maneh (ya palingan ada warga yang mengadakan hajatan, apalagi).”

Berbeda dengan Ayu, Nur menatap Widya dengan ngeri sembari berbicara lirih. Nur yang seharusnya paling ceria di antara mereka berkata, “mbak, ra onok deso maneh nang kene, gak mungkin nek onok hajatan, nek jare wong biyen, krungu gamelan nang nggon kene, iku pertanda elek (mbak, tidak mungkin ada desa lain di sini, tidak mungkin ada acara di dekat sini, kalau kata orang jaman dulu, kalau dengar suara gamelan, itu pertanda buruk)

Mendengar itu, Ayu tersulut dan langsung menuding Nur sudah ngomong yang tidak-tidak. Ikuti kisah lengkapnya dengan mengklik tautan ini.

You May Also Like

About the Author: jalurtujuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *