Menjajal Wisata Adrenalin di Gunung Galunggung

  • Whatsapp

Galunggung merupakan salah satu objek wisata alam Kabupaten Tasikmalaya yang sudah terkenal, baik di nusantara maupun macanegara. Ada beberapa daya tarik dari gunung yang pernah meletus pada tahun 1982 itu. Di antaranya kolam air panas, puncak gunung hingga wisata adrenalin.

Nah, bagi kamu yang menyukai tantangan, ada baiknya mencoba untuk menjajal wisata adrenalin. Apa itu?

Bacaan Lainnya

Sebenarnya fasilitas ini belum resmi disebut wisata adrenalin. Tapi apa salahnya kita populerkan demi menambah daya tarik Galunggung bagi pengunjung.

Wisata adernalin dimaksud adalah mendaki puncak Galunggung dengan menumpangi ojek. Fasilitas ojek itu sebagai alternatif menuju puncak Galunggung selain menggunakan tangga.

Sudah terbayang belum bagaimana ngerinya menaiki Galunggung pakai motor?

Baik, kami (penulis) pernah melakukan itu. Rasa degdegannya sampai ke ubun-ubun. Betapa tidak, motor yang kami tumpangi menaiki lereng Galunggung yang menanjak dan kadang berkelok.

Jalan yang berkelok itu membuat kami degdegan karena khawatir ada motor lain dari berlawanan arah meluncur dan tabrakan tepat di belokan. Apalagi jalan itu sempit hanya cukup satu motor.

Kekhawatiran kami itu sedikit hilang setelah pengemudi ojek meyakinkan bahwa dia akan tahu jika ada motor dari berlawanan dari puncak. Sebab, ia sudah memperhitungkan berapa ojek yang masih di puncak. Itu berkat manajemen pengelola Galunggung yang mengatur arus lalu lintas ojek menuju puncak.

Ya, arus lalu lintas ojek menuju puncak bisa terhitung dengan baik. Sebab, jalur khusus motor itu hanya untuk ojek. Pengunjung sangat dilarang menggunakan motor menuju puncak.

Alasannya, pertama nanti puncak akan dipenuhi motor sehingga dipastikan crowded dan berbahaya. Kedua, ya itu tadi, lalu lintas menuju puncak bakal tak bisa terprediksi sehingga rawan tabrakan.

Menikmati puncak selama 30 menit

Perlu diketahui, abang gojek memberikan tarif Rp 60.000 pulang pergi. Tapi kalau hanya mengantarkan sampai puncak hanya Rp 30.000. Lalu turunnya melewati tangga.

Kelebihan pakai jasa pulang pergi, kita nggak akan capai fisik (cuma capai hati saja, hehe). Namun kekurangannya adalah durasi berada di puncak Galunggung singkat. Abang gojek mewanti-wanti agar tidak terlalu lama karena terkait dengan lalu lintas jalur motor menuju puncak.

Baiklah, setelah sampai puncak, kami sedikit menikmati panorama alam puncak Galunggung. Cuma sayangnya, udara di sana sudah kurang segar. Kondisinya panas, apalagi kalau siang hari. Dulu, belasan tahun silam, puncak Galunggung selalu sejuk meski siang hari.

Setelah 30 menit berada di puncak dan masih sempat beberapa kali mengambil gambar dan selfie, akhirnya kami pun turun kembali.

Jantung kian berdebar

Menuruni puncak Gunung Galunggu melalui jalur lereng ternyata lebih mendebarkan dibanding ketika naik. Motor meluncur begitu saja dengan kecepatan sedang.

Jantung kian degdegan ketika bertemu belokan tajam. Apa yang kami khawatirkan adalah, pertama bagaimana jika rem blong, motor akan meluncur lurus dan jatuh ke tebing. Kedua, bagaimana kalau dari arah berlawanan muncul motor dengan kecepatan tinggi (karena menanjak) sehingga tabrakan bisa tak terelakan.
Namun kekhawatiran itu tak terbukti. Abang gojek sudah profesional, berpengalaman dan mengetahui betul medan tempuh. Alhasil, kami bisa selamat sampai kaki Galunggung dan langsung menikmati goreng pisang hangat dari ibu-ibu penjual di sana.

So, sobat jalurtujuh, jika ingin berwisata ke puncak Galunggung ada baiknya mencoba wisata adrenalin itu ya. Dijamin menyenangkan dan mengesankan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *